Categories
Berita Forex News

Dolar Menguat Didorong Laju Yield Obligasi AS & Sentimen Stimulus

Dolar Amerika Serikat beranjak naik pada Senin (11/01) pagi meski meningkatnya harapan atas kebijakan stimulan lanjutan AS yang mengakibatkan beberapa investor menghindar spekulasi bearish dan memandang dolar bergerak menjauhkan berasal dari posisi terendah multi-tahun baru-baru ini.

Indeks dolar AS naik 0,33% di 90,362 menurut information Investing.com pukul 10.06 WIB. Adapun rupiah (USD/IDR) lagi melemah 1,00% di 14.120,0 per dolar AS sampai pukul 10.23 WIB.

Pasangan USD/ JPY menguat 0,20% ke 104,14. Pasar Jepang ditutup libur.

Pasangan AUD/USD melemah 0,61% di 0,7712 dan NZD/USD turun 0,64% ke 0,7196. Pergerakan itu berlangsung meski information bulan ke dua yang dirilis lebih baik berasal dari perkiraan di Australia gagal mengangkat kenaikan AUD. Penjualan ritel bulan November naik 7,1% bulan ke bulan, lebih tinggi berasal dari pembacaan 7% di bulan Oktober.

Pasangan USD/CNY naik 0,22% jadi 6,4890. Data yang dirilis pada hari pada mulanya menunjukkan bahwa indeks harga produsen (PPI) berkontraksi 0,4% tahun-ke-tahun di bulan Desember, lebih tinggi berasal dari -0,8% menurut perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com dan information bulan November sebesar -1,5%. Data termasuk menunjukkan bahwa indeks harga costumer (CPI) bulan Desember termasuk melampaui ekspektasi, naik 0,7% bulan ke bulan dan 0,2% th. ke tahun.

Data China lebih lanjut, termasuk information ekspor, impor dan trade balance, bakal dirilis akhir minggu ini. Data berasal dari AS, termasuk PPI dan penjualan ritel, termasuk bakal dirilis pekan ini.

Pasangan GBP/USD melemah 0,40% jadi 1,3508. Presiden terpilih AS Joe Biden udah menjanjikan dana pengeluaran tambahan “triliunan” untuk perlindungan COVID-19 sementara ia dan Kongres AS yang dikendalikan Demokrat bersiap untuk menjabat pada 20 Januari.

Janji Biden mendorong imbal hasil obligasi patokan 10-tahun AS naik lebih berasal dari 20 basis poin jadi 1,1187% pada th. 2021 sampai sementara ini, yang pada gilirannya menunjang dolar ke level tertinggi satu bulan di 104,095 yen pada hari sebelumnya, dengan memberikan suku bunga yang lebih baik. Dan ini berarti tren menjual dolar berhenti sejenak.

“Sumber yang mendasari kebangkitan adalah sehabis pemilihan Senat dan pasar mengantisipasi bahwa kami barangkali mendapatkan lebih banyak perlindungan fiskal secara substansial untuk ekonomi AS … seluruh orang menanyakan apakah ini merubah narasi dolar yang lebih lemah, itulah mengapa saya pikir kami mendapatkan sedikit lanjutan berasal dari apa yang kami memandang pada hari Kamis dan Jumat,” kepala siasat FX National Australia Bank, Ray Attrill menyatakan kepada Reuters.

Tapi Attrill belum membeli rebound, memperingatkan bahwa pergeseran imbal hasil relatif condong butuh sementara untuk dimainkan di pasar mata uang. Fakta bahwa stimulan ekstra belum dijamin, dan juga faktor-faktor lain yang membebani dolar, selamanya berlaku, tambahnya.

Namun, perdagangan yang solid di dalam spekulasi pada dolar, di samping aksi menjual di pasar obligasi sejak Demokrat memenangkan kendali Senat selama pemilihan putaran ke dua minggu pada mulanya di Georgia, udah memperlambat penurunan tajam dan stabil greenback sejak Maret 2020.

“Narasi dolar yang lebih lemah dan stimulan yang luas untuk pasar negara berkembang udah ditantang di awal th. daripada yang kami perkirakan, yang sanggup mengarah pada anggapan lagi perihal konsensus perdagangan, setidaknya di dalam minggu mendatang,” kata analis Barclays (LON:BARC) di dalam catatan.

“Kami berpegang pada pandangan non-konsensus kami bahwa dolar barangkali bakal mendapatkan keuntungan berasal dari perkembangan yang lebih baik dan pengembalian modal selama sisa th. ini,” tambah catatan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *